Bagaimana Kita Mengkondisikan Sikap dan Perilaku dalam Berpenduduk, Bermasyarakat, dan Berbudaya

Posted: 17/11/2011 in Tugas

Sepanjang masa kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah mencoba menerapkan bermacam-macam demokrasi. Hingga tahun 1959, dijalankan suatu praktik demokrasi yang cenderung pada sistem Demokrasi Liberal, sebagaimana berlaku di negara-negara Barat yang bersifat individualistik.

Pada tahun 1959-1966 diterapkan Demokrasi Terpimpin, yang dalam praktiknya cenderung otoriter. Mulai tahun 1966 hingga berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998 diterapkan Demokrasi Pancasila. Model ini pun tidak mendorong tumbuhnya partisipasi rakyat. Berbagai macam demokrasi yang diterapkan di Indonesia itu pada umumnya belum sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi, karena tidak tersedianya ruang yang cukup untuk mengekspresikan kebebasan warga negara.

Berdasar pengalaman sejarah, tidak sedikit penguasa yang cenderung bertindak otoriter, diktaktor, membatasi partisipasi rakyat dan lain-lain. Mengapa dernikian? sebab penguasa itu sering merasa terganggu kekusaannya akibat partisipasi rakyat terhadap pemerintahan. Partisipasi itu dapat berupa usul, saran, kritik, protes, unjuk rasa atau penggunaan kebebasan menyatakan pendapat lainnya.

Ada beberapa contoh sederhana yang dapat ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam lingkungan keluarga, kita harus membiasakan diri untuk menghormati pendapat anggota keluarga yang lain. Dalam lingkungan sekolah, kita tidak boleh memaksakan kehendak pada teman sendiri, serta mematuhi tata tertib sekolah. Dalam suatu pertandingan olah raga misalnya, seluruh peserta harus mematuhi aturan permainan, tunduk pada putusan juri, sportif, bersedia menerima kekalahan dan lain-lain. Meskipun tampak sederhana, justru dalam kehidupan bermasyarakat itulah perlu membiasakan hidup secara demokratis. Pembudayaan demokrasi perlu menjadi agenda penting bagi bangsa Indonesia, demi terwujudnya kesadaran berdemokrasi di kalangan masyarakat.

Menyikapi Seni Budaya Sunda pada Zaman Sekarang??

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua. Banyak sekali tentunya budaya sunda itu, namun semakin banyaknya budaya luar masuk kedalam lingkuangan sunda, maka tidak aneh kalau seni budaya sunda semakin tersingkirkan oleh zaman. Tidak heran kalau anak pemuda sunda zaman sekarang kurang mengenal dan juga kurang perhatiaannya terhadap budaya sunda. Karena kebanyakan diantara mereka sudah tidak perduli dengan budaya sunda serta tidak ingin tahu tentang sunda.

Sungguh Prihatin Para Sesepuh Sunda sekarang, untuk mengenalkan satu budaya sunda perlu waktu yang lumayan lama, contohnya Lagu Pop Sunda, anak sunda kurang lebih 80% tidak suka. Apalagi dengan budaya yang lain yang lebih sakral, seperti wayang golek, pencak silat, dan juga debus. Kebanyakan dari mereka menolak, padahal belum dicoba.

Wayang Golek, Merupakan kesenian sunda yang sangat tenar di Indonesia maupun mancanegara, terbukti dengan beberapa kali wayang golek mendapat penghargaan dari negara tetangga. Itu sudah menunjukan betapa luar biasanya budaya sunda itu, dan juga begitu berharga.

Tetapi dengan cara menyikapi semua budaya itu, sangat kurang dari anak sekarang, sehingga budaya sunda ini hampir terkerus zaman. Tak heran, kalau budaya sunda hampir punah tertelan zaman. Kenapa bisa begitu? banyak faktor yang sangat berpengaruh terhadap budaya sunda dan dapat menyisihkan budaya sunda dari tatarpasundan. Diantaranya :

  1. Kurangnya perhatian dan minat pemuda sunda sekarang terhadap budaya sunda.
  2. Kurangnya dukungan Peralatan atau fasilitas, karena semakin hari semakin sedikit alat kebudayaan sunda.
  3. Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya budaya sunda terhadap perkembangan zaman.
  4. Berkurangnya sumber dan tenaga pengajar yang kopentensi dibidang seni budaya sunda.
  5. Masuknya budaya luar atau barat.
  6. Terpengaruh oleh perkembangan zaman.
  7. Bebasnya akses masuk budaya asing.
  8. Banyaknya orang yang tidak merasa memilki seni budaya sunda.
  9. Dan lain sebagainya.

Itu beberapa penyebab yang mungkin seni budaya sunda semakin tersisihnya budaya sunda di tanah tatarsunda. Dan tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi faktor yang dapat menyebabkan seni budaya sunda tersingkirkan.

Perlu penyelesaian yang akurat untuk pemulihan kondisi ini, contohnya dengan mengadakan kegiatan yang dapat menunjang kelestarian seni budaya sunda, yang dapat menyeimbangkan antara zaman modern dan juga kebudayan sunda.

Dengan mengadaka kegiatan tersebut, budaya sunda akan terlestarikan meskipun dalam tahap demi tahap. Contohnya kegiatan yang dapat menunjang tercapainya kelestarian budaya sunda diantaranya :

  1. Pamoja ( Paguyuban Mojang Jajaka )

Pamoja biasanya dilaksanakan setahun sekali dalam penyelenggaraanya, dan kegiatan ini merupakan ajang yang sangat menarik dan juga penuh inspirasi serta dedikasi. karena didalam kegiatan ini, orang dituntut untk bisa menguasai minimal satu budaya sunda. Serta mengasah pengetahuan orang tersebuat tehadap budaya sunda.

  1. Penyuluhan

Dengan di kenalkannya budaya sunda secara terang-terangan terhadap umum serta terhadap remaja atau pelajar, supaya tahu apa itu seni budaya sunda ? yang diperlukan adalah penyaji dan juga suber yang sangat berkopetensi dibidangnya.

  1. Pagelaran Pentas Seni sunda

Dengan adanya pertunjukan serta penayangan secara luas, maka akan meningkatkan daya tarik yang luas juga, dan ini akan menyerap peminat lebih lama lagi, dengan pertunjukan yang penuh sarat dan juga pesan mendidik, tidak akan diragukan lagi orang akan terpengaruh dan rasa ingin lebih tahu akan semakin tinggi.

  1. Pengadaan Pendidikan dan Pelatihan Seni Budaya Sunda

Dengan mengadakan sanggar seni, rumah adat, tempat pentas serta sarana untuk pelatihan dan pendidikan yang kopetensi, maka pelajar akan berusaha supaya bisa dan juga daya tariknya akan semakin tinggi.

  1. Pembuatan Pameran Dan Museum Seni Budaya Sunda

Dengan adanya sentral dan pemusatan kebudayaan untuk diperlihatkan kepada publik dan adanya sarana untuk para pengunjung untuk mencoba dan belajar dilingkungan museum tersebut.

Sumber:

Http://cintatatarsunda.blogspot.com/2010/09/bagai-mana-kita-menyikapi-seni- budaya.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s